Horas ma dihita sude Saluhutna! Pomparan ni opputta Raja Nabuttu Siagian

Siagian (Surat Batak: ᯘᯪᯀᯎᯪᯀᯉ᯲) adalah salah satu marga Batak Toba yang berasal dari daerah Balige, Toba. Pada tahun 2013, tugu persatuan marga Siagian diresmikan oleh Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho di Desa Sihobuk, Bonan Dolok III, Balige.

Nama Siagian dalam Bahasa Batak Toba secara harfiah merujuk kepada kata si dan anggian yang memiliki arti sebagai seorang anak bungsu. Hal tersebut mengacu kepada:

  Timbo ni dolok ni bagas ni rura
     Ganjang ni dalan marlobilobi
     Mangido horas ma hita saluhutna tu Debata
     Sitompa daging nang tondinta.

  1. Kata si dalam Bahasa Batak Toba merupakan prefiks yang dipakai sebagai penunjuk nama,
  2. Kata anggian dalam Bahasa Batak Toba memiliki arti sebagai lebih muda di antara yang bersaudara atau anak bungsu.

Namun dalam kenyataannya Raja Siagian bukanlah anak bungsu dari Tuan Dibangarna. Menurut kisah yang diceritakan turun-temurun dari keturunan Tuan Dibangarna, Raja Siagian sebenarnya adalah anak bungsu Tuan Dibangarna dari istri pertama. Kemudian Tuan Dibangarna menikah lagi dengan seorang perempuan boru Pasaribu dan melahirkan anak yang kemudian diberi nama Sianipar. Raja Sianipar lahir setelah ketiga abangnya, Raja Panjaitan, Raja Silitonga, dan Raja Siagian telah dewasa.

wikipedia/siagian